Wilayah Pesisir Pantai Parangtritis
Dasar Teori
Menurut Gunawan dkk (2005) dalam Pramono dan Ashari
menjelaskan bahwa wilayah kepesisiran meliputi pantai (shore) dan pesisir (coast).
Pantai berkedudukan di antara daratan dan laut yang dibatasi oleh rata-rata
garis surut terendah yang disebut dengan garis pantai (shoreline) dengan rata-rata garis pasang tertinggi air laut yang
disebut garis pesisir (coastline).
Adapun pesisir merupakan terletak pada wilayah dari garis pesisir yang
menunjukan rata-rata garis pasang tertinggi, ke arah daratan sampai pada
penampakan yang secara genetik pembentukannya masih dipengaruhi oleh aktivitas
marine.
Proses marine
mempunyai pengaruh yang sangat aktif pada daerah pesisir sepanjang pantai.
Bentuk lahan asal proses marine dihasilkan oleh aktivitas gerakan air laut,
baik pada tebing, pantai berpasir, pantai berkarang, maupun pantai berlumpur.
Gerakan tersebut meliputi (Marfal, 2011:67):
1. Pasang surut, naik turunnya
permukaan laut setiap 6 jam 12,5 menit sehingga interval naik turun memerlukan
waktu 12 jam 25 menit. Pasang surut ini dapat mengerosi pantai apalagi kalu
bersama – sama dengan gelombang / ombak.
2. Arus, aliran air laut yang disebabkan oleh
angin, perbedaan suhu air laut dll.
3. Ombak sesuai dengan arah angin dapat mengerosi
pantai. (abrasi).
Selain dipengaruhi
oleh kedalaman laut, perkembangan bentang lahan daerah pantai juga dipengaruhi
oleh (Marfal, 2011:67):
1.
Struktur, tekstur, dan komposisi batuan.
2. Keadaan bentang alam atau relief
dari daerah pantai atau daerah di daerah sekitar pantai tersebut.
3. Proses geomorfologi yang
terjadi di daerah pantai tersebut yang disebabkan oleh tenaga dari luar,
misalnya yang disebabkan oleh angin, air, es, gelombang, dan arus laut.
4. Proses geologi yang berasal dari
dalam bumi yang mempengaruhi keadaan bentang alam di permukaan bumi daerah
pantai, misalnya tenaga vulkanisme, diastrofisme, pelipatan, patahan, dan
sebagainya.
5. Kegiatan gelombang, arus laut,
pasang naik dan pasang surut, serta kegiatan organisme yang ada di laut.
Lebih lanjut Gunawan dkk (2005) berdasarkan
konsep wilayah kepesisiran oleh Shepard, merumuskan tipe keruangan kepesisiran
sebagai berikut:
1.
Lingkup wilayah
kepesisiran pada daerah berpasir
Tipe kepesisiran ini
memiliki topografi landai dan berpasir dengan proses utama yang berlangsung
adalah sedimentasi pasir marin dan aeolin. Hasilnya dari proses tersebut berupa
perkembangan gisik (beach) dan
bukit-bukit pasir (sand dunes) yang
sangat baik. Pada tipe kepisisiran semacam ini, wilayah kepesisiran meliputi:
(1) zona pecah gelombang (breaker zone), (2)
pantai (shore) beserta gisiknya (beach), (3) pesisir (coast) yang di dalamnya dijumpai gumuk pasir, ledokan antara dua
beting gisik (beach ridges) atau
antara dua gumuk pasir yang disebut swale atau lagoon bila berisi air asin,
serta beting gisik tua yang biasanya telah berkembang sebagai lahan permukiman,
hingga (4) daerah-daerah yang secara morfogenesis pembentukannya masih
dipengaruhi aktivitas marine, seperti dataran alluvial kepesisiran (coastal
alluvial plain) dan/atau daerah bekas bekas laguna yang telah berkembang
menjadi rawa belakang (back swamp).
2.
Wilayah kepessiran
pada daerah rataan terumbu karang
Tipe
kepesisiran ini juga bertopografi landai dengan pelataran pantai (platform)
dari material terumbu karang. Prose utama yang berangsung adalah pasang–surut
air laut. Pada tipe kepesisiran semacam ini, wilayah kepesisiran meliputi: (1)
zona pecah gelombang, (2) pantai, yang dijumpai rataan terumbu (reef flat). Jika di belakang zona
terumbu karang merupakan dataran nyaris atau peneplain maka wilayah pantai
berlanjut hingga wilayah terumbu karang tidak dijumpai lagi. Akan tetapi jika
belakangnya berupa dataran alluvial kepesisiran, maka wilayah kepesisiran juga
meliputi satuan dataran alluvial kepesisiran. Tipe pesisir ini banyak dijumpai
pada pesisir-pesisir sekunder yang terbentuk akibat aktivitas organisme (coast built by organism), yang ke arah
darat membentuk zona perbukitan berbatuan gamping.
3.
Wilayah kepesisiran
pada daerah rataan pasang surut
Tipe
kepesisiran ini juga bertopografi landai tetapi material penyusannya berupa
lumpur. Proses utama yang berlangsung adalah sedimentasi lumpur maupun
pasang-surut air laut yang menunjukan perkembangan wilayah berlumpur. Pada tipe
kepesisiran ini, wilayah kepesisiran meliputi: (1) zona pecah gelombang, (2)
pantai, dengan rataan pasang-surut (tidal
flat). Rataan pasang-surut dapat berupa dataran lumpur (mud flat) jika seluruh materi penyususn berupa lumpur dan tidak
ada vegetasi apapun, dapatpula berupa rawa payau (saltmarsh) jika di atas lumpur telah tumbuh vegetasi, hingga (4)
daerah-daerah yang secara morfogenesis pemebentukannya masih dipengaruhi
aktivitas marine, seperti dataran alluvial kepesisiran (coastal alluvial plain). Tipe pesisir ini banyak dijumpai pada
pesisir primer yang terbentuk akibat proses sedimentasi dari darat yang kuat (sub areal deposition coast) atau pantai
dengan perkembangan delta yang baik.
4.
Wilayah kepesisiran pada cliff batu gamping
dan pseudocliff batuan beku.
Tipe
kepesisiran ini dicirikan oleh keberadaan ciff dan tidak terdapat gisik. Proses
utama yang berlangsung adalah abarasi dan runtuhan batuan (rockfall). Wilayah kepesisiran ini hanya meliputi: pantai, yang
dimulai dari zona pecah gelombang hingga tebing cliff. Tidak dijumpai wilayah
pesisir. Tipe semacam ini banyak djumpai pada pesisir primer yang terbentuk
secara strukural atau patahan (structural
shaped coast) atau pada pesisir sekunder akibat erosi gelombang (wave erosion coast) dan pesisir karstik
berdinding terjal. Selain kepesisiran dengan cliff nyata seperti di atas, tipe
kepesisiran bertebing lainnya dijumpai dengan adanya psedocliff (cliff yang
terdapat pada zona perbukitan non-struktural, seperti pada perbukitan berbatuan
breksi-andesit tua) dan bergisik. Proses utama berupa abrasi dan sedimentasi
pasir marine. Pada tipe kepesisiran ini wilayah kepesisiran meliputi pantai dan
gisiknya, dimulai dari zona pecah gelombang hingga tebing psedocliff. Pesisir
juga tidak dijumpai.
Pesisir primer
dikelompokan lagi menjadi 4 tipe yaitu pesisir akibat erosi lahan (land erosion coast), pesisir akibat
deposisional sub arial (sub aerial
deposition coast), pesisir akibat proses volkanik (volkanik coast), dan akibat proses struktural (struktural coast).
a.
Land
erosion coast
Merupakan bentuk lahan
pesisir yang berkembang dibawah pengaruh erosi lahan-lahan bawah di daratan
yang diikuti inudasi oleh laut. Termasuk dalam kategori ini adalah lembah-lembah
sungai (river valleys), pesisir erosi glasial (drowned glacial erosion coast),
dan pesisir topografi karst
b.
Sub-aerial
deposition coast
Pesisir yang terbentuk akibat akumulasi
secara langsung bahan-bahan sedimen sungai, glasial, angin atau akibat longsor
lahan ke arah laut. Termasuk dalam kategori ini adalah proses pembentukan delta
dan rataan pasang-surut.
c.
Volcanic
coast
Merupakan pesisir yang
terbentuk sebagai akibat proses vulkanik di tengah laut. Termasuk dalam
kategori ini adalah pesisir aliran lava (lava
flow coast), tephra coast yang tersebut oleh material hancuran vulkan,
seperti abu vulkan, cinders, dan blok lava, dan pesisir akibat letusan vulkan,
seperti kaldera.
d.
Structrally
shaped coast
Pesisir yang terbentuk akibat proses patahan, pelipatan atau intrusi batuan sedimen, seperti: kubah garam atau kubah lumpur laut dangkan (salt dunes).
Pesisir sekunder dikelompokan ke dalam tiga tipe pesisir, yaitu pesisir akibat erosi gelombang, (wave erosion coast), akibat pengendapan, (marine deposition coast), dan pesisir akibat organisme (coast built by organisme).
a.
Wave
erosion coast
Merupakan pesisir yang terbentuk akibat
aktivitas gelombang, yang berpola lurus atau tidak teratur, tergantung pada
komposisi maupun struktur dari batuan penyusun.
b.
Marine
deposition coast
Merupakan pesisir yang terbentuk oleh
deposisi material sedimen marine. Termasuk dalam kategori ini (1) pesisir
berpenghalang (barrier coast),
seperti barrier beaches, barrier islands,
barrier spits and bays, (2) cuspate foreland, (3) beach plains, seperti coastal and sand
plains tanpa lagoon, dan rataan lumpur atau rawa.
c.
Coast
built by organisms
Pesisir
dengan garis yang terbentuk akibat aktivitas hewan atau tumbuhan, termasuk
terumbu karang yang terbentuk oleh alga dan oister, atau tumbuhan seperti
mangrove, rumput-rumput rawa. Tipe ini biasanya dijumpai pada daerah tropikal
Hasil dan Pembahasan
Pantai Parangtritis merupakan pantai yang cukup terkenal di wilayah Provinsi Yogyakarta. Hampir setiap hari banyak orang yang datang mengunjungi. Pantai Parangtritis memiliki memiliki gisik yang relatif landai sampai datar dengan susunan material pasir berwarna hitam karena kebanyakan merupakan material vulkanik. Material vulkanik ini berasal dari Gunung Merapi yang terletak di sebelah utara pantai Parangtritis yang diangkut oleh aliran sungai Progo dan sungai Opak. Kemudian, oleh kombinasi tenaga kepesisiran yang meliputi angin, gelombang, arus laut, dan pasang surut yang bekerja di sepanjang pantai diendapkan di gisik tepi laut. Pantai Parangtritis juga merupakan pantai yang terdapat zona struktural, artinya daerah ini mempunyai dasar yang curam dan berbatasan langsung dengan laut lepas. Pantai Parangtritis juga mempunyai zona pecah gelombang yang dekat pantai, sehingga membuat zona paparannya sempit. Hal itu berakibat pada hempasan ombak yang dapat menyapu pantai dengan energi yang masih kuat ditambah lagi dengan keadaan yang tidak rata di dasar laut. Banyak wisatawan yang kadang menjadi korban dan terbawa oleh air laut.
Apabila diperhatikan secara detail
lewat ketinggian, garis pantai Parangtritis tidak membentuk garis lurus, tetapi
membentuk suatu gelombang yang secara kecil membentuk cembungan ke laut dan
cekungan ke darat. Cekungan ke darat merupakan lokasi hempasan gelombang dari
laut yang kemudian menyebar bergerak sepanjang pantai (longshore current) dan
kembali ke laut (rip current) dengan arus yang bergerak cukup kuat pada
cembungan ke laut. Di sebelah sisi timur pantai Parangtritis terdapat pantai
Parangendog yang berbatasan dengan dinding terjal (cliff). Dinding terjal yang diujmpai di wilayah ini adalah ujung
timur dari formasi Nglanggeran pada fisiografi Baturagung yang berbatasan
dengan ujung barat formasi Wonosari pada fisiografi Gunungsewu.
Pada wilayah di sebelah timur
Parangtritis merupakan tipe pesisir structrally shaped
coast yang terbentuk
akibat proses patahan, ditandai dengan adanya pluging cliff, yaitu lereng
terjal yang berlanjut hingga di bawah permukaan laut dengan kedalaman
tertentu. Namun, pada umumnya tipe
pesisir di wilayah pantai prangtritis merupakan tipe pesisir vulcanic coast. Dimana wilayahnya
terbentuk dari material dari gunung merapi yang terbawa oleh aliran sungai yang
kemudian diendapkan disepanjang tepi pantai.
Kaitannya dengan bentanglahan asal
proses marine, di sebelah utara Parangtritis terdapat bentanglahan asal proses
eolian, yaitu gumuk pasir. Terbentuknya gumuk pasir juga dibantu oleh kerja
ombak. Material vulkanik yang begitu banyak dibawa oleh aliran sungai Opak
diendapkan sampai di muara. Material sungai tersebut selanjutnya dihantam oleh
ombak laut selatan yang menggerus pasir menjadi butiran halus. Aktivitas ombak
tidak sampai disitu saja, pasir halus yang sudah terbentuk tadi kemudian
diendapkan di sepanjang tepi pantai. Sesampainya di tepi pantai, pasir yang
basah tersebut lama-kelamaan akan mengalami pengeringan oleh sinar matahari.
Pasir yang telah kering kemudian terbawa oleh tiupan angin menuju daratan. Dengan
proses yang lama dan terjadi terus-menerus, endapan yang dibawa semakin banyak
dan berkembang menjadi gundukan-gundukan pasir (gumuk pasir). Gumuk pasir yang
terbentuk biasanya memiliki ciri khas sesuai arah hembusan angin. Adanya bukit karst atau cliff yang terletak
di sebelah timur Parangtritis menyebabkan hembusan angin dari arah tenggara
lebih kuat.
DAFTAR PUSTAKA
Pramono,
Heru dan Ashari, Arif. Dasar-Dasar
Geomorfologi. Yogyakarta: UNY Press.
Marfal, Muh Aris. 2011. Oseanografi Lanjut. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.
Post a Comment for "Wilayah Pesisir Pantai Parangtritis"