Paper Geografi Tanah (Bakteri dalam Tanah)
PAPER GEOGRAFI TANAH
BAKTERI DALAM TANAH
Oleh:
I. ABSTRAK
Tanah merupakan tempat
tinggal berbagai bentuk yang tidak terhitung banyaknya dari tanaman, binatang
dan kehidupan mikroba. Kehidupan di tanah merupakan berbagai hal yang
menakjubkan, berkisar dari sel tunggal
yang mikroskopik sampai hewan-hewan yang besar yang hidup di dalam
lubang.
Setiap ekosistem
mempunyai kombinasi yang unik antara organisme-organisme hidup dan
sumber-sumber abiotik yang berfungsi untuk memelihara aliran yang terus menerus
dari enersi dan nutrien. Semua ekosistem mempunyai dua tipe organisme
berdasarkan pada sumber karbon. Autotroph menggunakan karbon anorganik terutama
berasal dari CO2 dan merupakan produsen. Heterotroph menggunakan
karbon organik dan merupakan konsumen dan perombak.
II. TINJAUAN
PUSTAKA
Bakteri adalah jasad yang bersel tunggal, salah satu
bentuk kehidupan yang sederhana dan terkecil yang dikenal. Bakteri berkembang
biak dengan jalan memperpanjang dan membelah diri menjadi dua bagian. Proses
perkembangbiakan bakteri berlangsung secara cepat di bawah kondisi yang ideal.
Suatu jasad baru dapat tercipta dalam dua puluh atau tiga puluh menit dengan
mudahnya. Perkembangan bakteri tergantung dari persediaan makanan, persaingan
dengan organisme lain, dan syarat-syarat lain. Bakteri bersama-sama dengan
fungi dan actinomicetes menyusun
kelompok besar golongan mikroorganisme serba guna (Sartohadi.2013:94).
Menurut Sutedjo dkk (1991:40), suatu sistem penggolongan
bakteria lainnya yang didasarkan atas kegiatan-kegiatan fisiologis, juga sering
dilaksanakan atau diterapkan dalam studi-studi ilmiah. Sistem ini menggolongkan
bakteri sebagai berikut :
A.
Bakteri autotropik atau bakteri
fakultatif autotropik, memperoleh karbon terutama sekali dari CO2 dari
atmosfer dan energinya dari oksidasi zat/bahan-bahan anorganik atau senyawa karbon
yang bersahaja.
a. Bakteri
yang menggunakan senyawa-senyawa nitrogen yang bersahaja, ammonia dan nitrit,
sebagai sumber-sumber energinya.
b. Bakteri yang menggunakan sulfur dan
senyawa-senyawa sulfur organik yang bersahaja, sebagai sumber-sumber energinya.
c. Bakteri yang menggunakan senyawa-senyawa
besi (dan mangan) sebagai sumber-sumber energinya.
d. Bakteri yang menggunakan hidrogen sebagi
sumber energi.
e. Bakteri yang menggunakan senyawa-senyawa
karbon yang bersahaja (CO2 CH4)
sebagai sumber energi.
B. Bakteri
heterotropik yang memperoleh karbon dan energi dari senyawa-senyawa organik.
a. Bakteri pemfiksasi nitrogen, memperoleh
nitrogennya dari atmosfer (gaseous
atmospheric nitrogen).
(1). Bakteri pemfiksasi nitrogen yang
nonsimbiotik :
(a). Organisma anaerobik, asam
butirik
(b). Azotobakter aerobik,
radiobakter, aerobakter,dan lain-lain.
(2). Bakteri
pemfiksasi nitrogen yang simbiotik atau bermodula pada akarnya.
b. Bakteri yang memerlukan nitrogen
gabungan:
(1).
Bakteria aerobik:
(a). Bakteri pembentuk
spora
(b). Bakteri bukan
pembentuk spora
- Bakteri Gram
positif
- Bakteri Gram
negatif
(2). Bakteri anaerobik yang
memerlukan nitrogen gabungan.
BAKTERIA
AUTOTROPIK
Bakteri
autotropik dicirikan oleh sifat-sifat fisiologis tertentu yang sangat
membedakannya dari semua bakteri lainnya. Dasar-dasar yang original dalam dan
bagi perkembagan bakteria ini telah diletakkan oleh WINOGRADSKY, yang bertahan
hingga sekarang dengan hanya sedikit modifikasi. Sifat-sifat khas dari
organisma-organisma ini dapat dikemukakan secara ringkat sebagai berikut
(Sutedjo dkk, 1991:41):
a.
Pertumbuhan
dan perkembangannya dalam tanah menyukai sekali media mineral yang elektif,
yang bermuatan zat-zat anorganik yang secara khusus mampu mengoksidasi.
b.
Eksistensi
bakteri-bakteri autotropik ini dihubungkan dengan tersedianya unsur-unsur
anorganik atau senyawa-senyawa sederhana, yang melangsungkan oksidasi sebagai
suatu hasil dari kegiatan-kegiatan hidup organisma.
c.
Oksidasi
zat/bahan-bahan anorganik demikian menunjang energi sebagai sumber satu-satunya
bagi perkembangan organisma-organisma ini.
d.
Bakteri-bakteri autotropik ini tidak memerlukan sesuatu
nutrisi, bagi sintesa sel atau sebagai sumber energi.
e.
Bakteri-bakteri
autotropik dapat dikatakan tidak berkemampuan membusukan zat/bahan-bahan
organik dan mengenai hal ini dapat diperiksa dalam pengembangannya pada bahan
campuran atau senyawa-senyawa tertentu.
f.
Bakteri
autotropik menggunakan karbon dioksida sebagai suatu sumber karbon yang
esklusif yang diasimilasi secara chemosintetis.
Sutedjo dkk (1991:42)
menyatakan bahwa bakteri autortopik merupakan bakteri yang tidak berhijau daun
yang membentuk zat karbon, lemak, dan protein tanpa memerlukan sinar matahari.
Dalam hal pembentukan zat karbohidrat misalnya, bakteri autotropik mampu
memanfaatkan daya kemampuannya (jadi tanpa memerlukan sinar matahari sebagai
sumber energi) untuk mengoksidasikan membakar zat anorganis, seperti: zat besi,
zat belerang, nitrogen, zat hidrogen, zat methan, dan zat karbonmonooksida.
BAKTERI
HETEROTROPIK
Bakteri
heterotropik meliputi mayoritas besar
organisma-organisma dalam tanah, pertumbuhannya tergantung dari bahan-bahan
organik sebagai sumber-sumber energinya dan terutama berhubungan dengan
dekomposisi sellulosa dan misellulosa, zat-zat tepung, protein dan bahan-bahan
nitrogen lainnya serta lemak sebagai bahan makanannya. Bakteri ini sangat
berbeda dalam susunan fisiologi, berlimpahnya, dan kepentingannya, sementara
ada yang aerobik dan sementara lainnya ada yang anaerobik, sementara ada yang
pembentuk spora dan sementara lainnya bukan spora, ada yang Gram positif dan
sementara lainnya adalah Gram negatif, sementara ada yang mampu memfiksasi
nitrogen atmosferik dan sementara lainnya
bergantung atas fiksasi
bentuk-bentuk nitrogen organik dan anorganik (Sutedjo dkk, 1991:44).
Selain segala
sesuatu yang telah dekemukakan di atas perlu pula dikemukakan bakteri-bakteri
lainnya, antara lain mycobacteria (bakteri cendawan), corynebacteria, dan
lainnya. Didasarkan pada temperatur lingkungan hidupnya dikenal pula bekteria
psychrofil, bakteri mesofil dan bakteria thermofil.
a. Bakteria psychrofi, yaitu
bakteria-bakteria yang dapat hidup
dalam temperatur 200 C ke
bawah sampai 50 C.
b. Bakteri mesofil, yaitu bakteri-bakteri yang
dapat hidup dalam temperatur antara 250 C sampai 700 C.
c. Bakteri thermofil, yaitu bakteri-bakteri yang
dapat hidup dalam temperatur optimal 550 C, maksimum 700 C
Lingkungan
hidup bakteria yang dapat menjamin kelangsungan
hidupnya, daari uraian-uraian yang telah dikemukakan, dengan demikian
adalah air, sisa-sisa tanaman dan binatang, CO2, Nitrogen,
mineral dan temperatur lingkungan (Sutedjo dkk, 1991:56).
Fiksasi
Nitrogen
Foth
(1995:250) menyatakan bahwa kebanyakan bakteri yang dapat memfiksasi nitrogen
hidup bebas atau non simbiotik. Banyak
dari penangkap nitorgen yang penting bersimbiose dan hidup berasosiasi
dengan tanaman inang. Bakteri yang dapat memfiksasi nitrogen disebut rhizobia,
menempel pada akar-akar tanaman. Kemudian tanaman akan membentuk nodul. Tanaman
menyediakan makanan bagi bakteri dan sebaliknya tanaman inang memanfaatkan
nitrogen yang difiksasi. Banyak tanaman leguminosa dan non leguminosa yang
terlibat dalam simbiose fiksasi nitrogen. Simbiose fiksasi nitrogrn
umumnya diartikan sebagai nitrogen yang
ada dalam atmosfer ditransfer ke tanah untuk digunakan oleh akar tanaman dan
mikroorganisme.
Ganggang
biru-hijau (cyanobakteria) adalah
penangkap nitrogen non simbiotik yang hidup di air, yang umumnya tertutup oleh
bakteri. Ganggang biru hijau ini unik, mereka bersifat autotroph dan dapat
memfiksasi nitrogen secara simbiotik. Pertumbuhan ganggang sedikit ditemui di
tanah, hal ini berarti bahwa mereka sangat kecil peranannya dalam penambahan
nitrogen di lingkungan daratan. Algae memfiksasi sejumlah nitrogen yang penting
bagi tanaman padi sawah dan dan penting dalam mendukung hasil panen.
Bakteri-bakteri mempunyai peranan yang dominan dalam transfer nitrogen dari
udara ke dalam air di lingkungan perairan (Foth, 1995:251).
III. PEMBAHASAN
Bakteri adalah beberapa mikroba terkecil dan paling melimpah di tanah.
Dalam satu gram tanah, akan ada miliaran bakteri. Ada diperkirakan
60.000 spesies bakteri yang berbeda, sebagian yang bahkan belum bernama, dan
masing-masing memiliki peran tertentu dan kemampuan. Sebagian besar tinggal di
10cm atas tanah dimana bahan organik hadir.
Terdapat beberapa kriteria
pengelompokan bakteri dalam tanah.
Bakteri tanah dapat dikelompokkan dalam beberapa
kriteria sebagai berikut:
(a) Berdasarkan Sumber Makanan,(b) Berdasarkan Kebutuhan Oksigen,(c)
Berdasarkan Peranannya dalam Penyediaan Hara bagi tanaman.
Pengelompokan bakteri
tanah berdasarkan sumber makanan,dibagi menjadi:
(1)
Bakteri
Autotroph atau Bakteri Lithotropik , yaitu: bakteri yang dapat menghasilkan
makanan sendiri, contohnya: bakteri nitrifikasi, bakteri denitrifikasi, bakteri
pengoksidasi belerang, bakteri pereduksi sulfat, dll. Bakteri autotroph ini
dikelompokkan lagi berdasarkan sumber energi yang diperlukan, yaitu: (a)
Bakteri Photoautotroph atau Bakteri Foto Lithotropik: bakteri yang menghasilkan
makanan sendiri dan sumber energi yang digunakan berasal dari Sinar Matahari,
dan (b) Bakteri Khemoautotroph atau Bakteri Khemolithotropik : bakteri yang
menghasilkan makanan sendiri dan sumber energi yang digunakan dari hasil
oksidasi bahan organik.
(2)
Bakteri
Heterotroph atau Bakteri Organotropik, yaitu: bakteri yang mendapatkan makanan dari
bahan organik atau sisa-sisa dari makhluk hidup lain, baik fauna maupun flora,
dan baik yang makro maupun yang mikro. Bakteri heterotroph ini pun
dikelompokkan lagi berdasarkan sumber makanan, menjadi dua kelompok, yaitu: (a)
Bakteri Photoheterotroph atau Bakteri Fotoorganotropik: bakteri yang mendapatkan
makanan dari bahan organik atau sisa-sisa makhluk hidup lain dan sumber energi
yang digunakan berasal dari Sinar Matahari, dan (b) Bakteri Khemoheterotroph
atau Bakteri Khemoorganotropik: bakteri yang mendapatkan makanan dari bahan
organik atau sisa-sisa makhluk hidup lain dan sumber energi yang digunakan dari
hasil oksidasi bahan organik.
Pengelompokan
bakteri berdasarkan Berdasarkan
Kebutuhan Oksigen, diantaranya:
(1)
Bakteri Aerob, yaitu bakteri yang selama
hidupnya membutuhkan oksigen (O2),
(2)
(Bakteri Anaerob, yaitu bakteri yang selama
hidupnya tidak membutuhkan oksigen, bahkan bila terdapat oksigen bakteri ini
mati, danbakteri ini memungkinkan akan
beracun. Kelompok ini termasuk jenis yang sangat kuno bakteri yang hidup di
dalam agregat tanah. Bakteri anaerob mendukung basah, tanah buruk dikeringkan
dan dapat menghasilkan senyawa beracun yang dapat membatasi pertumbuhan akar
dan predisposisi penyakit tanaman ke akar.
(3)
Bakteri Mikroaerofilik, yaitu bakteri yang
selama hidupnya hanya membutuhkan oksigen dalam jumlah yang sedikit.
Pengelompokan bakteri tanah berdasarkan Peranannya dalam Penyediaan Hara bagi tanaman, dikelompokkan menjadi:
1.
Bakteri pemfiksasi nitrogen
2.
Bakteri pelarut fosfat
3.
Bakteri pereduksi sulfat
Bakteri Pemfiksasi nitrogen dikelompokkan juga
menjadi tiga berdasarkan hubungannya dengan tanaman, yaitu:
(1) Simbiosis,
(2) Asosiasi, dan
(3) Hidup bebas.
Peranan terpenting bakteri dalam tanah
Miroorganisme
ini sangat berperan dalam menjadikan tanah yang subur. Peranan tersebut diantaranya
dalam siklus energi, siklus hara, pembentukan agregat tanah, dan dapat
menentukan kesuburan tanah dengan beberapa ketentuan.
Dampak adanya bakteri dalam tanah
Bakteri
merupakan mikroorganisme yang paling membantu dalam menyuburkan tanah. Akan tetapi,
ada juga organisme yang merusak atau menjadikan tanah tersebut tidak subur
bahkan menjadi rusak.
Pembentuk tanah subur dengan bakteri dalam
tanah
Tanah
tersebut harus mengandung minimal 2 juta bakteri yang dapat meningkatkan
kesuburan tanah. Selain itu, tanah tersebut dikelola sesuai daerah
ketinggiannya agar dapat dialiri air.
Ciri-ciri tanah subur dengan bakteri tanah
Tanah
yang subur dapat menghasilkan tanaman yang baik untuk dikonsumsi. Selain itu,
dari ciri fisiknya yaitu dapat menyerap air dengan baik sehingga tanah tersebut
dapat diolah sesuai dengan kebutuhan.
Dampak pembasmian bakteri dalam tanah
Membasmi
bakteri yang merugikan tanah haruslah berhati-hati karena jika terjadi sedikit
kesalahan akan berdampak negatif pada perkembangan tanah. Hal itu disebabkan
oleh obat yang digunakan untuk membasmi bakteri tersebut dapat mematikan banyak
jenis bakteri lainnya. Bahkan dapat menjadikan tanah tersebut mati karena
mikroorganismenya sudah banyak yang pindah tempat atau mati.
IV. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Foth, Henry D. 1995. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Yogyakarta :
UGM Press.
Sartohadi,
dkk. 2013. Pengantar Geografi Tanah.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Post a Comment for "Paper Geografi Tanah (Bakteri dalam Tanah)"