Angin Fohn dan Pengaruhnya terhadap Perubahan Cuaca dan Iklim
Angin
Fohn dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Cuaca dan Iklim di Permukaan Bumi
Angin
adalah massa udara yang bergerak akibat adanya perbedaan tekanan udara pada
suatu wilayah dengan wilayah lain sehingga menyebabkan massa udara bergerak
dari tekanan tinggi (suhu rendah) menuju ke
tekanan yang rendah (suhu panas) yang bertiup di suatu wilayah. Angin
diklasifikasikan dalam beberapa jenis, salah satunya adalah angin Fohn yang
termasuk ke dalam angin lokal.
Angin Fohn merupakan angin yang bersifat
panas dan kering yang menuruni lereng-lereng pegunungan.
Angin
Fohn terbentuk karena adanya massa udara yang membawa uap air yang melewati
barisan pegunungan, kemudian dipaksa menaiki lereng pegunungan dan mengalami
pendinginan adiabatic. Apabila suhu di
atas pegunungan cukup rendah dan terdapat inti pembekuan, maka terbentuklah kristal-kristal
es. Namun, apabila suhu pada puncak pegunungan tersebut cukup basah akan
terbentuk tetes-tetes air. Kemudian terjadilah proses kondensasi setelah suhu
permukaan puncak pegunungan sama dengan awan, pada saat terjadi kondensasi ini
terlepaslah panas laten yang merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap proses
pendinginan adiabatic yang dialami oleh massa udara yang naik ke puncak
pegunungan tersebut. Massa udara yang naik ke puncak pegunungan yang telah
mengalami pendinginan adiabatic bertemu dengan pelepasan panas laten sehingga
menimbulkan pendinginan yang lebih lambat. Pelepasan panas laten ini merupakan
salah satu proses terpenting dalam pembentukan dan perkembangan angin Fohn.
Selain terbentuk angin, terbentuk pula awan yang mengurangi kebasahan udara dimana udara ini akan
menuruni lereng pegunungan dan berpengaruh dalam pembentukan angin Fohn itu
sendiri. Pada proses naiknya udara ini terdapat dua proses yang paling penting,
yaitu bertambahnya energi panas pada udara yang naik tersebut sebagai akibat
pelepasan panas laten pada saat pembentukan awan dan semakin keringnya arus
udara tersebut karena telah terjadi hujan.
Berdasarkan
penjelasan diatas, massa udara yang bersifat panas akan menuruni lereng
pegunungan menuju lembah yang memiliki suhu lebih rendah daripada suhu yang
telah dilewati oleh massa udara tadi. massa udara yang turun ini bersifat
panas, kering, kencang, dan ribut
yang disebut juga angin Fohn.
Angin Fohn memiliki syarat untuk terbentuk, pertama harus terdapat pegunungan
dengan gunung atau puncak-puncaknya yang tinggi. Kedua, harus terdapat sirkulasi
sekunder, dalam hal ini monsun, yang cukup kuat sebagai pendorong mekanik bagi
udara untuk menaiki lereng sehingga melewati punggung atau puncak deretan
pegunungan tersebut.
Angin Fohn
sendiri di Indonesia terdapat beberapa macam yang terjadi di berbagai pulau
yang berbeda. Berikut akan dijelaskan beberapa angin Fohn yang efeknya paling
menonjol di Indonesia, yakni :
1. Angin Bohorok
Angin Bohorok adalah angin Fohn yang bertiup didaerah dataran rendah Deli Utara, yaitu bagian hilir dari Sungai Karanggading dan Sungaituan serta kota Binjai, Tanjungmerawa, dan Tanjungselamat. Karena angin ini datangnya dari arah kota Bohorok, maka dinamakan angin Bohorok.
Pada daerah ini terdapat deretan pegunungan yang dibutuhkan pada pembentukan angin Fohn, yakni Bukit Barisan di Sumatera Utara. Angin sekunder yang ada di wilayah ini bersama dengan angin Monsun barat laut mendorong massa udara secara mekanik untuk menaiki dan melewati puncak Bukit Barisan. Frekuensi kejadiannya paling maksimum terjadi pada bulan Juli. Dataran rendah Deli Utara adalah daerah tiupan dari angin Bohorok ini. Meskipun dampak dari angin Bohorok ini tidak terlalu signifikan, tetapi bertiupnya angin Bohorok ini menimbulkan kerusakan pada daerah yang ditanami tembakau yang diakibatkan oleh sifat kering dan panas dari angin Bohorok ini, sehingga angin Bohorok lebih ditakuti sifat kering dan panasnya oleh penduduk sekitar daripada kekuatan dari angin ini sendiri. Semakin mendekati arah pantai pengaruh dari angin ini semakin berkurang.
2. Angin Kumbang
Angin Kumbang merupakan angin yang terbentuk akibat adanya angin muson timur sehingga menimbulkan pergerakan angin dari arah timur atau tenggara. pergerakan angin tersebut berfungsi sebagai faktor pendorong udara untuk menaiki dan melewati pegunungan yang membentang pada arah timur-barat yang berada pada daerah jawa tengah bagian barat, adapun puncak atau gunung yang terdapat pada pegunungan ini antara lain ialah Gunung Rongojembangan, gunung Joho, Gunung Sinembut, Gunung Slamet, dan Gunung Kumbang. Angin Fohn yang menuruni lereng bagian bawah angin gunung ini bertiup ke arah barat laut yang bertiup ke arah Cirebon Pergerakan udara yang menaiki gunung Kumbang lalu udara menuruni lereng pada bagian bawah.
3. Angin Gending dan Angin Grenggong
Angin Gending adalah angin Fohn yang berasal dari arah kota Gending yang bertiup ke arah Probolinggo. Sedangkan angin Fohn yang bertiup ke arah Pasuruan disebut angin Grenggong. Pada daerah ini terdapat angin Monsun yang datangnya dari arah tenggara, mendorong massa udara untuk menaiki dan melewati deretan pegunungan. Pertama-tama, massa udara ini melewati dan menaiki puncak pegunungan Iyang di sebelah tenggara Probolinggo, kemudian puncak pegunungan Tengger di sebelah selatan Pasuruan, setelah melewati puncak-puncak dari pegunungan tersebut maka terbentuklah angin Fohn Gending dan Grenggong.
4. Angin Brubu
Angin Brubu ini terbentuk karena dorongan secara mekanik dari angin Monsun timur atau tenggara yang memaksa udara untuk menaiki Gunung Lompobatang. Gunung ini terletak di ujung selatan Sulawesi Selatan. Angin Fohn ini menuruni lereng bagian bawah gunung ke arah barat laut menuju Ujungpandang.
5. Angin Wambraw
Angin Wambraw ini ditimbulkan oleh angin Monsun timur yang memaksa massa udara untuk menaiki pegunungan Jayawijaya dengan puncak-puncaknya seperti Puncak Yamin, Puncak Trikora, dan Puncak Jaya. Angin Fohn ini bertiup jauh ke arah barat laut menyeberangi selat Yapen sampai Biak.
Angin merupakan salah satu unsur dalam pembentukan cuaca. Peranan angin salah satunya adalah sebagai faktor pendorong percepatan proses evaporasi. Begitu pula dengan yang terjadi pada angin Fohn. Angin Fohn bersifat kering dan panas sehingga menimbulkan proses evaporasi yang terjadi pada suatu daerah yang dilalui semakin cepat. Hal ini mempengaruhi cuaca yang terjadi pada daerah tersebut.
Kesimpulannya, angin Fohn akan terjadi di daerah yang memiliki pegunungan dan terjadi sirkulasi sekunder pada daerah tersebut. Tetapi tidak semua wilayah pegunungan dapat membentuk angin Fohn karena semua tergantung pada pembentukan awan di pegunungan tersebut. Sehingga pembentukan angin Fohn ini sangat berkaitan dengan pembentukan awan. Jika udara di pegunungan kering dan tidak terjadi pembentukkan awan maka massa udara di wilayah ini suhunya sama atau tetap. Padahal, untuk membentuk angin Fohn diperlukan suhu udara yang berbeda antara suhu udara yang menaiki lereng pegunungan dan udara yang menuruni lereng pegungungan tersebut. Angin Fohn yang terbentuk menimbulkan perubahan cuaca di permukaan bumi, cuaca tersebut apabila terjadi secara terus menerus kurang lebih sepuluh tahun maka berdampak pada perubahan iklim di daerah yang dilalui oleh angin Fohn ini.
DAFTAR PUSTAKA
Pawirowardoyo,
Susilo. 1996. Meteorologi. Bandung : ITB.
Soejitno. 1973. Meteorologi Umum Untuk Observer Meteorologi. Jakarta : LMG
Post a Comment for "Angin Fohn dan Pengaruhnya terhadap Perubahan Cuaca dan Iklim"