Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Laporan Praktikum Hidrologi

 

LAPORAN PRAKTIKUM

HIDROLOGI

                                                  

I.          TUJUAN

1. Menghitung debit sungai mengunakan metode apung

            2. Menentukan interface air tanah

            3. Mengestimasi debit aliran dan arah aliran

            4. Menghitung ketersediaan dan hasil aman

 

II.        DASAR TEORI

Debit aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam sistem satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik (m3/detik). Dalam laporan-laporan teknis, debit aliran biasanya ditunjukan dalam bentuk hidrograf aliran. Hidrograf aliran adalah suatu perilaku debit sebagai respons adanya perubahan karakteristik biogeofisik yang berlangsung dalam suatu DAS (oleh adanya kegiatan pengelolaan DAS) dan adanya perubahan fluktuasi musiman/tahunan iklim lokal (Asdak, 2007:191).

Metode Apung

Metode apung (floating method) merupakan pengukuran debit aliran paling sederhana. Caranya dengan menempatkan benda yang tidak dapat tenggelam di permukaan aliran sungai untuk jarak tertentu dan mencatat waktu yang diperlukan oleh benda apung tersebut bergerak dari satu titik pengamatan ke titik pengamatan lain yang telah ditentukan. Benda apung yang dapat digunakan dalam pengukuran ini pada dasarnya adalah benda apa saja panjang dapat terapung dalam aliran sungai. Pemilihan tempat pengukuran sebaiknya pada bagian sungai yang relatif lurus dengan tidak banyak arus tidak beraturan. Jarak antara dua titik pengamatan yang diperlukan ditentukan sekurang-kurangnya yang memberikan waktu perjalanan selama 20 detik. Pengukuran dilakukan beberapa kali sehingga dapat diperoleh angka kecepatan aliran rata-rata yang memadai (Asdak, 2007:193).

Menurut Takeda (1985:178), cara ini dapat dengan mudah digunakan meskipun permukaan air sungai itu tinggi. Cara ini sering digunakan karena tidak dipengaruhi oleh kotoran atau kayu-kayuan yang hanyut dan mudah dilaksanakan. Tempat yang harus dipilih adalah bagian sungai yang lurus dengan perubahan lebar sungai, dalamnya air dan gradien yang kecil. Tiang-tiang untuk observasi dipancangkan pada 2 buah titik dengan jarak dari 50 m sampai 100 m. Waktu mengalirnya pelampung diukur dengan stopwacth. Setelah kecepatan aliran dihitung, maka diadakan perhitungan debit yakni kecepatan kali luas penampang melintangnya. Biasanya digunakan 3 buah pelampung yang dialirkan pada satu garis pengukuran aliran dan diambil  kecepatan rata-rata. Mengingat arah mengalirnya pelampung itu dapat dirubah oleh pusaran-pusaran air dan lain-lain, maka harga yang didapat dari pelampung yang arahnya sangat berbeda harus ditiadakan.

a.  Pelampung permukaan

Untuk mengukur kecepatan aliran permukaan digunakan sepotong kayu dengan diameter 15 sampai 30 cm, tebal 5 cm. supaya mudah dilihat, kayu itu dicat atau kadang-kadang pada malam hari dipasang bola lampu listrik yang kecil. Bahan dari pelampung yang digunakan adalah tidak tentu, sepotong kayu, seikat jerami, botol dan lain-lain.

Pengukuran kecepatan aliran dengan pelampung permukaan digunakan dalam keadaan banjir atau jika diperlukan segera harga perkiraan kasar dari debit, karena cara ini adalah sangat sederhana dan dapat menggunakan bahan tanpa suatu pilihan. Akan tetapi, harga yang teliti adalah sulit diketahui karena disebabkan oleh pengaruh angin atau perbandingan yang diubah-ubah dari kecepatan aliran permukaan terhadap kecepatan aliran rata-rata yang sesuai dengan keadaan sungai. Kecepatan rata-rata aliran pada penampang sungai yang diukur adalah kecepatan pelampung permukaan dikali dengan koefisien 0,70 atau 0,90, tergantung dari keadaan sungai dan arah angin (Takeda, 1985:179).

b. Pelampung tangkai

Pelampung tangkai dibuat dari sepotong kayu atau sepotong bambu yang diberi pemberat pada ujung bawahnya. Pemberat itu dibuat dari kerikil yang dibungkus dengan jaring atau kain diujung bawah tangkai (Takeda, 1985:179)

c. Koefisien

Kedalaman pelampung tangkai tidak boleh mencapai dasar sungai sehingga tangkai tidak dipengaruhi oleh bagian kecepatan yang lambat pada lapisan bawah. Jadi hasil yang didapat adalah lebih tinggi dari kecepatan rata-rata, sehingga kecepatan pelampung harus disesuaikan dengan suatu koefisien (Takeda, 1985:180).

d. Pelepasan pelampung

Beberapa saat sesudah pelepasan, pelampung itu tidak stabil jadi pelampung harus dilepaskan kira-kira 20 meter disebelah udik garis observasi, pelampung itu telah mengalir dalam keadaan yang stabil. Hal ini akan dipermudah jika disebelah udik titik pelepasan terdapat jembatan. Pada keadaan yang cukup aman, dapat digunakan perahu untuk melepaskan pelampung. Namun demikian mengingat posisi pelepasan itu  sulit ditentukan, maka sebelumnya harus disiapkan tanda yang menunjuk posisi tersebut dengan jelas (Takeda, 1985:180).

Data debit atau aliran sungai merupakan informasi yang paling penting bagi pengelola sumber daya air. Debit puncak (banjir) digunakan untuk merancang bangunan pengendali banjir. Sementara data debit aliran kecil diperlukan untuk perencanaan alokasi (pemanfaatan) air untuk berbagai macam keperluan, terutama pada musim kemarau panjang. Debit aliran rata-rata tahunan dapat memberikan gambaran potensi sumber daya air yang dapat dimanfaatkan dari suatu daerah aliran sungai. Debit aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. dalam laporan-laporan teknis, debit aliran biasanya ditunjukan dalam bentuk hidrograf aliran. Hidrograf aliran adalah suatu perilaku debit sebagai respons adanya perubahan karakteristik bieogeofisik yang berlangsung dalam suatu DAS dan/atau adanya perubahan (fluktuasi musiman atau tahunan) iklim lokal (Asdak, 1995:363). 

            Air tanah

Menurut Asdak (2007:244), air tanah adalah air yang berada di wilayah jenuh di bawah permukaan tanah. Secara global, dari keseluruhan air tawar yang berada di planet bumi ini lebih dari 97% terdiri atas air tanah. Tampak bahwa peranan air tanah di bumi adalah penting.  Air tanah dapat dijumpai dihampir semua tempat di bumi. Air dapat ditemukan di bawah gurun pasir yang paling kering sekalipun, demikian juga di bawah tanah yang membeku karena tertutup lapisan es atau salju. Sumbangan terbesar air tanah berasal dari daerah arid dan semi-arid serta daerah lain yang mempunyai formasi geologi paling sesuai untuk penampungan air tanah. Dengan semakin berkembangnya industri agro dan non-agro industri) serta permukiman dengan segala fasilitasnya seperti lapangan golf, kolam renang, maka ketergantungan manusia terhadap air tanah menjadi semakin terasakan. Namun demikian, patut disayangkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan air tanah yang semakin meningkat tersebut, cara pengambilan aur tanah seringkali tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hidrologi yang baik sehingga seringkali menimbulkan dampak negatif yang serius terhadap kelangsungan dan kualitas sumber daya air tanah. Dampak negatif pemanfaatan air tanah (yang berlebihan) dapat dibedakan menjadi dampak yang bersifat kualitatif (kualitas air tanah) dan kuantitatif (pasokan air tanah). Dampak yang pertama mulai dirasakan dengan ditemuinya kasus-kasus pencemaran sumur-sumur penduduk, terutama yang berdekatan dengan aliran sungai yang menjadi sarana pembuangan limbah pabrik.

Dalam membahas air tanah, selain faktor-faktor di atas permukaan tanah yang ikut mempengaruhi proses terbentuknya air tanah, ada faktor yang tidak kalah pentingnya dalam mempengaruhi proses terbentuknya air tanah. Faktor tersebut adalah formasi geologi dan oleh karenanya, penting untuk dipelajari karakteristinya. Formasi geologi adalah formasi batuan atau material lain yang berfungsi menyimpan air tanah dalam jumlah besar. Dalam membicarakan proses pembentukan air tanah formasi geologi tersebut dikenal sebagai akifer (aquifer). Dengan demikian, akifer pada dasarnya adalah kantong air yang berada di dalam tanah. Akifer dibedakan menjadi dua: akifer bebas (unconfined aquifer) dan akifer terkekang (confined aquifer) (Asdak, 2007:245).

            Sifat-sifat Batuan yang Mempengaruhi Air Tanah

Air tanah berada dalam formasi geologi yang tembus air (permeable) yang dinamakan akuifer, yaitu formasi-formasi yang mempunyai struktur dimana dimungkinkan adanya gerakan air melaluinya dalam kondisi medan (field condition) biasa. Sebaliknya formasi yang sama sekali tidak tembus air (impermeable) dinamakan akuiklud. Formasi tersebut mengandung air, tetapi tidak dimungkinkan adanya gerakan air yang melaluinya, dalam hal ini yang dapat diambil contoh adalah tanah liat. Akuifug adalah formasi kedap air yang tidak mengandung atau mengalirkan air, dan yang termasuk dalam kategori ini adalah granit yang keras (Soemarto, 1987:250).

Bagian batuan yang tidak terisi oleh bagian padatnya (butirnya) akan diisi oleh air tanah. Ruang-ruang tersebut dinamakan rongga-rongga (voids) atau pori-pori. Karena rongga-rongga tersebut dapat bekerja sebagai pipa air tanah, maka rongga-rongga tersebut merupakan bagian penting dalam studi air tanah. Rongga-rongga tersebut ditandai oleh besarnya, bentuknya, ketidakaturannya, dan distribusinya. Rongga-rongga primer terbentuk selama proses geologi yang mempengaruhi asal dari formasi geologi, yang didapatkan pada batuan sedimen dan batuan beku. Rongga-rongga sekunder terjadi setelah batuan terbentuk, sebagai contoh joints, fracture, lubang-lubang larutan dan lubang-lubang yang dibuat oleh binatang dan tumbuhan. Mengingat besarnya rongga-rongga tersebut dapat diklasifikasikan sebagai kapiler, super kapiler, dan subkapiler. Rongga-rongga kapiler cukup kecil, sehingga menimbulkan adanya tegangan permukaan yang menahan air. Rongga-rongga super kapiler lebih besar daripada rongga-rongga kapiler, sedangkan rongga subkapiler lebih kecil, sehingga dapat menahan air oleh adanya gaya-gaya adhesi. Tergantung kepada hubungan antara rongga-rongga tersebut, dapat digolongkan rongga berhubungan dan rongga tertutup (Soemarto, 1987:250).

            Zona Akuifer

Untuk usaha-usaha pengisian kembali air tanah melalui peningkatan proses infiltrasi tanah serta usaha reklamasi tanah, maka kedudukan akifer dapat dipandang dari dua sisi yang berbeda:

1. Zona akuifer tidak jenuh, merupakan suatu zona penampung air didalam tanah yang terletak di atas permukaan air tanah (water table) baik dalam keadaan almiah (permanen) atau sesaat setelah berlangsungnya periode pengambilan air tanah.

2. Zona akuifer jenuh, merupakan zona penampung air tanah yang terletak di bawah permukaan air tanah kecuali zona penampung air tanah yang sementara jenuh dan berada di bawah daerah yang sedang mengalami pengisian air tanah (Asdak, 2007:254).

Lebih lanjut, penyebaran air tanah dapat dibedakan berdasarkan daerah penyebarannya menjadi zona aerasi (zona akuifer tidak jenuh dan zona jenuh). Pada zona akuifer jenuh, semua pori-pori tanah terisi oleh air dibawah tekanan hidrostatik. Zona ini dikenal dengan zona air tanah.

Menurut Asdak (2007:255) dalam Todd (1996), zona aerasi dapat dibagi menjadi beberapa bagian wilayah penampung air tanah seperti di bawah ini:

1. Zona air tanah (soil water zone). Zona air tanah ini bermula dari permukaan tanah dan berkembang ke dalam tanah melalui akar tanaman. Kedalaman yang dicapai air tanah ini bervariasi tergantung pada tipe tanah dan vegetasi. Zona air tanah ini dapat diklasifikasikan menjadi: zona air higroskopis, yaitu air yang diserap langsung dari udara di atas permukaan tanah; air kapiler; dan air gravitasi, yaitu air yang bergerak ke dalam tanah karena gaya gravitasi bumi.

2. Zona pertengahan (intermediate zone). Zona ini umumnya terletak antara permukaan tanah dan permukaan air tanah dan merupakan daerah infiltrasi.

3. Zona kapiler (capilary zone). Zona kapiler terbentang dari permukaan air tanah ke atas sampai ketinggian yang dapat dicapai oleh gerakan air kapiler.

4. Zona jenuh (saturated zone). Pada zona jenuh ini semua pori-pori tanah terisi oleh air.

 

            Formasi Geologi sebagai Akuifer

            1. Akuifer batuan dasar (bedrock aquifer)

                         Batu pasir yang karena terdiri atas butir-butir pasir yang kecil dapat diharapkan merupakan jenis formasi batuan dasar yang membentuk akuifer terbaik. Kelihatannya hal ini benar, bahwa beralasan, disebabkan oleh adanya permeabilitas pada batu pasir yang pada umumnya lebih besar dibandingkan dengan batuan dasar sedimen yang lain, seperti pada batu kapur dan shale. Pada umumnya formasi geologi yang terdiri keseluruhannya atas shale dapat dianggap sebagai jenis akuifer batuan dasar yang kurang diinginkan. Tetapi kadang-kadang ada beberapa daerah yang batuan dasarnya terdiri atas shale memberikan produksi air tanah yang memadai (Soematno, 1987:262).

                         Batu pasir, seperti telah disebutkan di atas, terdiri atas butir-butir kecil yang memadat menjadi batuan keras. Bedanya batu pasir dengan pasir lepas adalah bahwa pada batu pasir butir-butir pasirnya saling terikat oleh sementasi. Ini berarti bahwa rongga-rongga diantara butir-butir pasir tersebut sebagian terisi oleh bahan-bahan sementasi yang mengikat butir-butir tersebut menjadi satu. Bahan sementasi itu dapat terdiri atas kalsium karbonat, silika, oksida besi atau bahan-bahan lain yang diendapkan secara kimia, yang sampai ke lapisan pasir oleh perkolasi air tanah. Oleh karenanya, permeabilitas batu pasir yang unfractured dengan suatu gradasi tertentu selalu lebih kecil dari pasir yang terkonsolidasi dengan gradasi yang sama. Pada batu pasir, seperti halnya pada batu kapur atau dolomit, permeabilitasnya tergantung pada adanya retakan-retakan lain yang terdapat dalam batuan tersebut. Batu pasir yang tersementasi secara kuat mempunyai permeabilitas yang kecil diantara butir-butirnya (Soematno, 1987:262).

            2. Akuifer Aluvial

                         Formasi aluvial meliputi semua bahan yang diendapkan akibat aksi sebuah sungai. Aluvium dalam lembah sungai terdiri atas bahan halus sampai kasar yang berlapis-lapis. Kadang-kadang erosi dan sedimentasi terjadi saling bergatian yang menyebabkan adanya teras-teras di lembah sungai. Timbunan aluvial di bawah tiap-tiap teras dapat mirip atau bahannya dapat berbeda dalam salam susunannya, besarnya butir atau dalam warna. Sumur yang dibuat dialuvium  hasilnya sangat beragam tergantung pada tekstur setempat dan tebal bahan (Soemarto, 1987:264).

                         Sungai yang mengangkut banyak sedimen keluar dari daerah pegunungan ke daerah datar, dengan adanya perubahan gradien yang mendadak akan mengakibatkan adanya endapan dan membentuk kipas atau kerucut aluvial. Bahan-bahan yang membentuk kipas beragam dalam tekstur, dari batu-batu besar dan kecil dihulunya, pasir kerikil dihilirnya dan menjadi lanau dan tanah liat pada akhir dari lereng. Jika gunungnya berkurang ketinggiannya, airnya akan mengendapkan bahan-bahan yang lebih halus secara berturut-turut. Oleh karenanya pada kipas aluvial biasanya material yang halus menutupi endapan yang kasar. Jika daerah pegunungan tersebut mengalami pengangkatan (uplift) yang berulang-ulang, mungkin akan terbentuk beberapa generasi kipas aluvial (Soemarto, 1987:264) 

            Gerakan Air Tanah

Asdak (2007:255) menyatakan bahwa perbedaan potensi kelembaban total dan kemiringan antara dua titik dalam lapisan tanah dapat menyebabkan gerakan air dalam tanah. Air bergerak dari tempat dengan potensi kelembaban tinggi ke tempat dengan potensi kelembaban yang lebih rendah. Selanjutnya air akan bergerak mengikuti lapisan (lempengan) formasi geologi sesuai dengan arah kemiringan lapisan formasi geologi tersebut. Kelembaban tanah tidak selalu mengakibatkan gerakan air dari tempat basah ke tempat kering. Air dapat bergerak dari tempat kering ke daerah basah seperti terjadi pada proses perkolasi air tanah.oleh pengaruh energi panas matahari, air juga dapat bergerak ke arah permukaan tanah, sampai tiba gilirannya menguap ke udara (proses evaporasi).

Gerakan air tanah dalam keadaan sebenarnya tidak berubah. Gerakan tersebut dikuasai oleh prinsip-prinsip hidrolika yang telah tersusun baik. Terhadap aliran air tanah lewat akuifer, yang pada umumnya merupakan media tiris. Permeabilitas yang merupakan ukuran dari kemudahan aliran lewat media tersebut, merupakan konstanta penting penting dalam persamaan aliran. Penentuan besarnya permeabilitas secara langsung dapat dilakukan melalui pengukuran di lapangan atau laboratorium. Informasi gerakan air tanah dapat diperoleh dengan memberikan suatu zat ke dalam aliran yang kemudian dirunut dalam ruang dan waktu (Soemarto, 1987:266).

Untuk menentukan arah aliran air tanah secara lokal, dapat dilakukan dengan menggunakan 3 buah sumur yang diketahui ketinggian muka air tanahnya. Dengan membuat garis kontur air tanah pada ketinggian tertentu dapat ditentukan arah alirannya, dengan cara menarik garis tegak lurus garis kontur tersebut. (Purnama, 2010: 55).

            Garis aliran pada peta kontur air tanah, sangat bermanfaat untuk perencanaan penentuan titik pemboran sumur. Kontur cembung menunjukkan suatu recharge area, sedangkan kontur cekung menunjukkan suatu discharge area.   Secara alami, aliran air tanah akan memotong tegak lurus (90º ) kontur air tanah pada kondisi akuifer yang homogen dan isotropis karena pengaruh potensial gravitasi dan mempunyai arah aliran dari muka air tanah (hydraulic head) tinggi menuju muka air tanah yang lebih rendah (Purnama, 2010: 55).

            Intrusi Air Laut ke dalam Akuifer di daerah Pantai

Air tanah tawar mengalir ke laut lewat akuifer-akuifer di daerah pantai yang berhubungan dengan laut pada pantai yang menjorok ke laut, dalam keadaan alami. Tetapi karena meningkatnya kebutuhan akan air tawar, maka aliran air tanah tawar akan ke arah laut telah menurun, atau bahkan sebaliknya, air laut mengalir masuk ke dalam akuifer daratan. Kejadian ini dinamakan intrusi air laut. Jika air laut tersebut telah mengalir ke dalam sumur-sumur di daratan, maka penyediaan air menjadi tidak berguna, karena akuifer telah dikotori oleh air asin, yang untuk membersihkan kembali memerlukan waktu bertahun-tahun lamanya. Usaha untuk memindahkan air asin tersebut dari akuifer darata adalah dengan menggunakan air tanah tawar yang telah tersedia, guna membilas air asin tersebut. Pentingnya untuk melindungi akuifer pantai dari ancaman semacam itu, memerlukan investigasi yang menekankan cara-cara untuk mencegah atau mengendalikan intrusi air laut (Soemarto, 1987:339).

            Prinsip Badon Ghiben – Herzberg

Prinsip ini bertalian dengan lensa-lensa air tawar yang terisolir, diisi oleh hujan efektif, yang mengambang di atas lingkungan air asin atau air payau. Hal tersebut menerangkan tentang hubungan antara permukaan air tanah dan kedalaman air tawar. Badon Ghijben merupakan orang pertama yang merumuskan prinsip-prinsip tersebut dalam tahun 1889. Kemudian setelah tahun1901 Hezberg, yang tidak mengenal prinsip-prinsip Badon Ghijben tersebut, telah mengemukakan prinsip yang sama. Badon Ghijben mengemukakan mengenai lensa-lensa air tawar di bukit-bukit pasir (sandunes), sedangkan Herzberg menyelidiki hal yang sama di Borkum. Dikedua tempat tersebut terdapat keadaan yang mirip pada daerah pengisiannya (recharge area), yang ditandai dengan daerah bereleviasi lebih tinggi dari daerah sekitarnya dan mempunyai daya infiltrasi yang baik ke dalam lingkungan air asin atau payau (Soemarto, 1987:340).

Produksi (Hasil) Air Tanah yang Aman

Produksi total air tanah pada suatu DAS merupakan jumlah air yang dapat dipompa dari akuifer dalam DAS, dalam suatu periode tertentu, tanpa memberikan hasil yang tidak diinginkan. Untuk mempertahankan sumber daya air tanah secara tak terbatas, pemompaan harus dibatasi pada produksi air yang aman. Tidak benar untuk menganggap hasil yang aman sebagai jumlah pengisian kembali air tanah dan bahwa jumlah ini dapat dipompa secara aman. Hasil yang aman sama dengan sebagian dari pengisian kembali akuifer. Sisanya hilang dengan cara-cara lain. Terdapat 4 faktor yang perlu dipertimbangkan untuk menganalisis hasil yang aman. Jika salah satu dari faktor-faktor ini memberikan hasil-hasil yang tidak diinginkan, maka terdapat kelebihan hasil yang aman. Faktor-faktor ini adalah Todd (1959) dalam Seyhan (1995:302):

1.    Hasil yang aman harus selalu kurang daripada pasokan air pada kawasan dalam periode yang ditentukan.

2.    Biaya memompa air tanah harus sesuai dengan cara-caranya

3.    Kualitas air harus dapat diterima (terlalu banyak memompa dapat menyebabkan intrusi air laut)

4.    Tidak boleh ada masalah-masalah hukum yang timbul karena pemompaan (hak-hak air).

5.    Perlindungan lingkungan

 

III.       ALAT DAN BAHAN

            A. Menghitung debit sungai dengan metode apung

Alat:

1.    Alat tulis, sebagai alat tulis-menulis

2.    Pelampung: botol, bambu, dan sejenisnya

3.    Roll meter digunakan sebagai panjang lintasan atau jarak yang dilintasi pelampung

4.    Stopwacth untuk mengukur waktu tempuh pelampung

5.    Yallon untuk menentukan titik lintasan

Bahan:

1. Data hasil pengukuran debit aliran sebagai bahan analisis

 

B.  Menentukan interface air tanah

Alat:

1.    Buku, sebagai tempat catatan hasil analisis maupun perhitungan

2.    Bolpoin dan pensil, sebagai alat tulis menulis

3.    Kalkulator, sebagai alat untuk hitung-menghitung

Data:

1. Data kedalaman dan muka air tanah tiap-tiap sumur

 

C. Memperkirakan debit air tanah dan arah aliran

Alat:

1.    Buku, sebagai tempat catatan hasil analisis maupun perhitungan

2.    Bolpoin dan pensil, sebagai alat tulis menulis

3.    Kalkulator, sebagai alat untuk hitung-menghitung

4.    Kertas kalkir, sebagai tempat menggambar kontur dan arah aliran

Bahan:

1.  Peta titik sumur, sebagai bahan analisis arah aliran air tanah

 

D. Menghitung ketersediaan dan hasil aman

Alat:

1.    Buku, sebagai tempat catatan hasil analisis maupun perhitungan

2.    Bolpoin dan pensil, sebagai alat tulis menulis

3.    Kalkulator, sebagai alat untuk hitung-menghitung

Data:

1.  Data mengenai wilayah pengamatan

 

IV.       LANGKAH KERJA                 

            1. Menghitung Debit Aliran dengan Metode Apung

a.    Menentukan lintasan yang akan digunakan untuk pengukuran 10 m, 20, dan 50 m, dengan syarat: cari penggal sungai yang lurus dan tidak terdapat pemecahan aliran.

b.    Menentukan titik lintasan pelampung

c.    Melepaskan pelampung agar bergerak dari A-B (titik yang telah ditentukan)

d.   Mengukur waktu tempuh pelampung

e.    Mengulangi langkah nomor 3 dan 4 sampai 3 kali.

f.     Menghitung kecepatan pelampung dengan menggunakan rumus:

g. Menghitung luas penampang basah

h. Mengitung debit dengan rumus:

                                  Q = V × A

            2. Menentukan interface air tanah

a. Mempersiapkan alat dan bahan

b.Melakukan survei air tanah dengan mengukur pada sumur   ketinggian tempat dan muka air tanah.

  Ketinggian muka air tanah= ketinggian tempat – kedalaman sumur Contoh: 120  mdpal – 4 meter = 116 mdpal

c.Setelah mendapatkan ketinggian muka air tanah, masukan ke dalam  rumus Ghyben-Hezberg HS = 40 HF 

            3. Mengistemasi debit aliran dan arah aliran

a.    Melakukan survey muka air tanah dengan mengukur pada sumur, meliputi ketinggian tempat dan kelembaban sumur.

Ketinggian muka air tanah= ketinggian tempat – kedalaman sumur

Contoh: 120  mdpal – 4 meter = 116 mdpal à hydraulic head

b.    Mempetakan lokasi sumur untuk melihat distribusinya pada suatu wilayah, memberikan keterangan ketinggian muka air tanah.

c.       Menghubungkan titik sumur yang dipilih dengan sumur terdekat.

d.      Menentukan kontur interval = 2 meter untuk menentukan kontur MAT.

Misalnya:  153-137 = 16 (A)

e.       Menentukan ketinggian MAT yang akan digambar

Misalnya: 150-137 = 13 (B)

Rumus

               f.   Menggambar garis kontur pada kertas kalkir

              g.   Menentukan dan menggambar arah aliran

 

            4. Menghitung ketersediaan dan hasil aman

a. Siapkan alat dan bahan yang digunakan untuk menghitung dan         menganalisis

b.  Menghitung ketersediaan air tanah dengan metode statis, rumus;

Vat = Sy x Vak

        Vat           = Volume air tanah

        Sy            = Spesifik yield

        Vak          = Volume akuifer

        Volume akuifer didapat dengan mengalikan antara luas akuifer dan

        tebal akuifer.

c.   Menghitung Hasil Aman dengan rumus,

HA =L x F x Sy

    HA          = Hasil aman

    L             = Luas

    F             = Fluktuasi

 

V.        HASIL DAN PEMBAHASAN

            1. Metode Apung

            Dalam pengukuran debit aliran menggunakan metode apung ini, diambil data pada sungai yang berada di pinggir pantai Parangtritis. Diperoleh data sebagai berikut:

     Panjang lintasan      : 10 meter

     Lebar sungai           : 6,80 meter

     Kedalaman sungai  : 13 centimeter

     Pengukuran             :     I     = 2 menit 24 detik

                                         II    = 2 menit 5 detik

                                        III    = 2 menit 9 detik

                                        IV    = 2 menit 8 detik

                                         V    = 1 menit 48 detik      

           

Menghitung kecepatan pelampung, dengan rumus:

                                V =  x konstanta (0,9)

a. pengukuran I

    V =  = 0,0625

b. pengukuran II

    V =  = 0,072

c. pengukuran III

    V =  = 0,0697

d. pengukuran IV

    V =  = 0,070

e. pengukuran V

    V =  = 0,083

Dari kelima perhitungan tersebut lalu dijumlahkan dan dibagi 5

                        V total =

                                    =

                                    = 0,071 detik

 

Menghitung Luas Penampang Basah:

A = kedalaman sungai  lebar sungai

    = 13 cm × 6,80 meter

    = 88,4 meter

 

Setelah diketahui kecepatan pelampung dan luas penampang basah, dapat dihitung debit aliran sungai sebagai berikut:

Q = V x A

    = 0,071 x 88,4

    = 6,27 m3/s

Pada pengukuran metode apung ini dilakukan di sungai yang tidak jauh dari laut. Artinya, sungai ini dekat dengan muara dan langsung mengarah ke laut. Panjang penggal sungai yang diukur adalah 10 meter dan lebar 6,8 meter. Sungai ini mempunyai kedalaman yang relatif dangkal, yaitu hanya 13 cm. Lintasan atau penggal sungai yang dipilih harus lurus tanpa ada pembelokan aliran sungai. Karena kalau lintasan yang dipilih terdapat pembelokan, hal itu akan mempengaruhi pada pelampung dan hasil pengukuran. Pelampung ketika melewati tikungan tentu akan bertambah kecepatannya dibanding dengan lintasan yang lurus. Hal lain yang harus dihindari adalah sungai yang diukur juga tidak terdapat pemecahan aliran.

Pada praktikum dengan metode apung dilakukan pengukuran pada tiap-tiap titik. Dan pada praktikum ini cukup diambil 1 titik, yaitu berada ditengah-tengah sungai. Namun demikian, pengukurannya dilakukan sebanyak 5 kali. Hal ini dilakukan agar hasil yang diperoleh bisa valid. Berdasarkan hasil perhitungan pada penggal sungai pada pengukuran 1 diperoleh kecepatan sebesar 0,0625, pengukuran 2 sebesar 0,072, pengukuran 3 sebesar 0,0697, pengukuran 4 sebesar 0,070, dan pengukuran 5 sebesar 0,083. Walaupun pengukurunnya dilakukan pada titik yang sama tidak menjamin kecepatan yang diperoleh dari tiap pengukuran sama. Banyak faktor yang membuat dari tiap-tiap pengukuran berbeda, diantaranya; angin dan gelombang. Kecepatan angin tiap saat tentu berbeda-beda, kadang kencang sampai sepoi-sepoi. Kecepatan angin yang demikian, akan mempengaruhi kecepatan pada pelampung. Yang kedua adalah gelombang. Gelombang disini bisa berasal dari manusia. Manusia yang terjun langsung ke dalam sungai secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kecepatan pelampung.

Namun saat dilakukan pengukuran, meski sudah dipilih penggal sungai yang lurus, namun arah gerak pelampung tidak berada tepat di tengah aliran sungai tersebut sehingga pelampung bergerak menepi dari semula berada di tengah aliran sungai kemudian berbelok ke pinggiran sungai. Meski secara teori seharusnya pelampung tersebut bergerak tepat di tengah aliran sungai sesuai dengan keberadaan tali arus sungai tersebut, namun kenyataannya pelampung malah bergerak ke pinggiran sungai. Hal tersebut dikarenakan faktor kedalaman sungai yang relatif dangkal tadi, dengan kedalaman sekitar 13cm. Keberadaan tali arus yang harusnya berada di tengah sungai jika penggal sungainya lurus ini mungkin saja dibelokkan jika sungai yang diukur adalah sungai yang dangkal, karena keadaan dasar sungai yang tidak rata bisa saja menyebabkan pembelokan bahkan pemecahan tali arus di permukaannya. Material yang menjadi dasar sungai itu sendiri merupakan kerikil dan pasir yang memiliki tingkat kekasaran tinggi, ditambah lagi dengan kedalaman sungai yang dangkal, sangat mungkin terjadi pembelokan tali arus yang menjadi penyebab berbelok/berubahnya arah aliran pelampug yang seharusnya tetap berada di tengah sungai.

 

Data Lokasi Pengamatan (Sumur)

            Titik I

            Koordinat                    = 0426481- 9113087

            Ketinggian                  = 15 mdpal

            Kedalaman                  = 1,62 meter

            Muka air tanah            = 13,38 meter

 

Titik II

            Koordinat                    = 0426083 - 9113025

            Ketinggian                  = 10 meter

            Kedalaman                  = 2,72 meter

            Muka air tanah            = 7,27 meter

 

Titik III

            Koordinat                    = 0426032 - 9113037

            Ketinggian                  = 10 mdpal

            Kedalaman                  = 4,55 meter

            Muka air tanah            = 5,45 meter

 

Titik IV

            Koordinat                    = 0425968 - 9113069

            Ketinggian                  = 12  mdpal

            Kedalaman                  = 6,78 meter

            Muka air tanah            = 5,22 meter

 

Titik V

            Koordinat                    = 0425880­- 9113065

            Ketinggian                  = 8 mdapl

            Kedalaman                  = 3,55 meter

            Muka air tanah            = 4,45 meter

 

Titik VI

            Koordinat                    = 0425628 - 9112207

            Ketinggian                  = 7 mdpal

            Kedalaman                  = 1,75 meter

            Muka air tanah            = 5,25 meter

 

Titik VII

            Koordinat                    = 04255182 - 9113632

            Ketinggian                  = 4 mdpal

            Kedalaman                  = 0,6 meter

            Muka air tanah            = 3,4 meter

           

Titik VIII

            Koordinat                    = 0425260 - 9113540

            Ketinggian                  = 4 mdpal

            Kedalaman                  = 0,8 meter

            Muka air tanah            = 3,2 meter

 

Titik IX

            Koordinat                    = 0425309 - 9113476

            Ketinggian                  = 9 mdpal

            Kedalaman                  = 1,2 meter

            Muka air tanah            = 7,8 meter

 

Titik X

            Koordinat                    = 0425582 - 9113462

            Ketinggian                  = 26 mdpal

            Kedalaman                  = 0,8 meter

            Muka air tanah            = 25,2 meter

 

Titik XI

            Koordinat                    = 0425931 - 9113315

            Ketinggian                  = 20 mdpal

            Kedalaman                  = 3,36 meter

            Muka air tanah            = 16,64 meter

 

 

 

 

 

2. Menentukan Interface Air Tanah

Dalam menentukan interface air tanah digunakan rumus Ghyben-Hezberg sebagai berikut;

                                        HS = 40 HF


Titik I:

HS = 40 HF

      = 40.13,38

      = 532,2 m

 

Titik VII:

HS = 40 HF

      = 40.3,4

      = 136 m

Titik II:

HS = 40 HF

      = 40.2,72

      = 290,8 m

 

Titik III:

HS = 40 HF

      = 40.5,45

      = 218 m

 

Titik VI:

HS = 40 HF

      = 40.5,22

      = 208,8 m

 

Titik V:

HS = 40 HF

      = 40.4,45

      = 178 m

 

Titik VI:

HS = 40 HF

      = 40.5,25

      = 210 m

 

 

Titik VIII:

HS = 40 HF

      = 40.3,2

      = 128 m

 

Titik XI:

HS = 40 HF

      = 40.7,8

      = 312 m

 

Titik X:

HS = 40 HF

      = 40.25,2

      = 1008 m

 

Titik XI:

HS = 40 HF

      = 40.16,64

      = 665,6 m


           

Setelah menghitung dan menggambarkan penampang pada kertas A4, terlihat lebih banyak titik yang garis interfacenya di bawah 300 meter, yaitu titik II sampai titik VII. Hal ini tentu menjadi peringatan bagi kelangsungan hidup di wilayah ini. Dengan interface air tanah yang dangkal akan menyebabkan terjadinya intrusi air laut. Intrusi air laut adalah naiknya batas antara air tanah dengan air laut ke arah daratan. Intrusi air laut disebabkan tekanan air tanah yang lebih kecil dibandingkan dengan tekanan air laut pada kedalaman yang sama. Perbedaan tekanan ini menyebabkan batas antara air tanah dan air laut naik ke daratan. Intrusi bisa terjadi karena adanya pengambilan air tanah yang berlebihan. Dalam kondisi normal air laut, air pun sudah dapat mengintrusi ke daratan karena massa jenis air laut yang lebih besar dibanding air tanah. Apalagi bila tekanan air tanah menurun, tentu intrusi air laut akan semakin kuat mengarah ke daratan.

Pada titik II sampai VII bisa disimpulkan bahwa bahwa pemanfaat dan penggunaan air tanah di wilayah ini sudah sangat berlebihan, yang membuat ketersediaan air dalam tanah berkurang. Walaupun dapat masukan dari air hujan bila musim penghujan tiba, tapi tetap saja tidak bisa menggantikan air tanah yang telah hilang. Butuh waktu yang lama dan konservasi  yang baik untuk mengembalikan seperti semula.  Imbuh air tanah tidak akan bisa mengimbangi kehilangan air tanahnya. Maka akan terjadi kekosongan ruang antar butir dalam akuifer. Dalam jangka waktu yang lama, akan terjadi pergeseran ke arah dalam dari butir-butir material akibat gaya berat dan gaya gravitatif. Sebelumnya ruang-ruang antar butir diisi oleh air, tetapi karena kondisinya yang tidak terkendali maka ruang tersebut menjadi tidak pernah terisi air kembali. Dampaknya selain terjadi amblesan tanah, pendalaman muka air tanah, juga dapat terjadi kelangkaan air tanah secara permanen. Jika air laut pada wilayah ini telah mengalir ke dalam sumur-sumur di daratan, maka penyediaan air tidak berguna, karena akuifer telah dikotori oleh air asin. Kehidupan masyarakat diwilayah ini juga akan menurun. Dengan keterbatasan air tanah membuat masyarakat kesulitan mencari air yang benar-benar tidak terkontaminasi oleh air laut. Sektor pertanian masyarakat juga bisa terganggu, dengan berkurangnya persediaan air tawar di sekitar pantai berdampak pada proses irigasi yang tidak maksimal.

Untuk itu perlu penanganan khusus dan kesadaaran dari masing-masing pihak akan pentingnya menjaga keseimbangan akuifer diwilayah ini. Masyarakat dan pemerintah bisa bersama-sama mencegah bila ada rumah, hotel, apartemen, yang mengambil air tanah secara berlebih. Pemerintah bisa memperingati dan bahkan beri sanksi kalau perlu agar ke depannya tidak mengulalangi perbuatannya lagi. Selain itu, masyarakat bisa menanam tanaman manggrove di sekitar pantai. Pentingnya untuk melindungi akuifer pantai dari ancaman semacam itu, memerlukan investigasi yang menekankan cara-cara untuk mencegah atau mengendalikan intrusi air laut.

 

3. Memperkirakan Arah Aliran Air Tanah

Berdasarkan hasil pengamatan dari tiap titik sumur dan kemudian digambarkan telah di dapat garis-garis kontur dengan ketinggian yang sama yang saling berhubungan satu sama lain. Dengan tergambarnya garis kontur kita dapat menentukan menuju arah mana aliran ait tanah. Secara umum pada gambar, mayoritas garis-garis kontur lebih cekung ke arah selatan, dimana pada sebelah selatan pantai Parangtritis dan Parangwedang terdapat Samudra Hindia. Namun, di daerah Parangkusuma sebelah selatan terlihat sebagian garis kontur yang yang secara sejajar cekung mengikuti arah sungai. Dan memang di daerah Parangkusuma ini terdapat beberapa sungai yang membuat arah aliran air tanah akan mengarah pada cekungan-cekungan sungai tersebut. Arah aliran air tanah sendiri dapat di pengaruhi oleh perbedaan potensi kelembaban total dan kemiringan antara dua titik dalam lapisan tanah dapat menyebabkan gerakan air dalam tanah. Air bergerak dari tempat dengan potensi kelembaban tinggi ke tempat dengan potensi kelembaban yang lebih rendah. Selanjutnya air akan bergerak mengikuti lapisan (lempengan) formasi geologi sesuai dengan arah kemiringan lapisan formasi geologi tersebut. Kelembaban tanah tidak selalu mengakibatkan gerakan air dari tempat basah ke tempat kering. Air dapat bergerak dari tempat kering ke daerah basah seperti terjadi pada proses perkolasi air tanah.oleh pengaruh energi panas matahari, air juga dapat bergerak ke arah permukaan tanah, sampai tiba gilirannya menguap ke udara (proses evaporasi).

Menurut Soemarto (1987:266) gerakan air tanah dalam keadaan sebenarnya tidak berubah. Gerakan tersebut dikuasai oleh prinsip-prinsip hidrolika yang telah tersusun baik. Terhadap aliran air tanah lewat akuifer, yang pada umumnya merupakan media tiris. Permeabilitas yang merupakan ukuran dari kemudahan aliran lewat media tersebut, merupakan konstanta penting penting dalam persamaan aliran. Penentuan besarnya permeabilitas secara langsung dapat dilakukan melalui pengukuran di lapangan atau laboratorium. Informasi gerakan air tanah dapat diperoleh dengan memberikan suatu zat ke dalam aliran yang kemudian dirunut dalam ruang dan waktu.

Meskipun kebanyakan air tanah mengalir ketempat yang lebih rendah sesuai dengan kemiringan muka air tanah tetapi ada juga yang tidak. Mengalirnya air tanah menuju tempat yang lebih rendah tersebut dikarenakan pengaruh gaya gravitasi. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya perbedaan ketinggian muka air tanah. Perbedaan ketinggian muka air tanah dapat menyebabkan tekanan pada air tanah berbeda juga.

Manfaat menetahui arah aliran air tanah ,yaitu selain mengetahui arah aliran tanah juga berfungsi untuk memprediksi arah pencemaran airtanah, menentukan debit dan volum (potensi) airtanah di daerah Parangkususma dan Parangtriis sehingga hal ini sangat bermanfaat bagi hotel, perumahan, dan tempat-tempat umum lainnya yang akan melakukan pengeboran sumur , mengetahui daerah tangkapan (recharge) dan daerah pemanfaatan (discharge), serta mengetahui perubahan pola aliran dan/atau anomali. Maka dari itu sangat diperlukan untuk mengetahui arah aliran air tanah tersebut karena memiliki manfaat dalam kehidupan.

Berdasarkan pembahasan di atas arah aliran tanah di daerah Parangkusuma dan Parangtritis cenderung mengarah ke arah selatan. Hal itu dikarenakan terdapat Samudra Hindia yang merupakan tempat dimana air akan terkumpul yang permukaan tanahnya lebih rendah dari pada daratan. Namun, adanya cekungan sungai juga bisa membuat arah aliran menuju sungai, tidak semua air dalam tanah mengalir ke arah samudra semua, ada sebagaian air yang masuk dan memusat pada cekungan yang ada di daratan. Arah aliran dipengaruhi oleh kemiringan lereng, menggunakan metode three point problem dapat memberikan manfaat dalam mengetahui arah aliran air tanah. Selain itu mengetahui aliran air tanah dapat meprediksi pencemaran, menentukan debit dan volum (potensi) air tanah disuatu daerah tertentu. Dari mengetahui arah air tanahnya kita juga dapat mengetahui daerah tangkapan dan daerah pemanfaatan

 

            4. Ketersediaan dan Hasil Aman

            a. Menghitung Ketersediaan Air Tanah

Dalam menghitung ketersediaan air tanah di daeah pengamatan kami menggunakan metode statis, dengan rumus:

Vat = Sy x Vak

Vat      = Volume air tanah

Sy        = Spesifik yield

Vak     = Volume akuifer

Untuk mengetahui volume akuifer, digunakan rumus: luas aquifer x tebal aquifer.

            a. Volume air tanah di dataran fluviomarine

                Luas aquifer  = 71 x 25.000

                                       = 1.775.000 cm

                                       = 17.500 m2

                Vak = luas akuifer x tebal aquifer

                        = 17.750 m x 100 m

                        = 1.775.000 m

                        = 17.750.000.000 m3

                Vat  = Sy x Vak

                        = 12% x 17.750.000.000 m3

                        = 2.130.000.000 m3

            b. Volume air tanah di dataran gumuk pasir dan biting gisik

                Luas aquifer  = 98 x 25.000

                                       = 2.450.000 cm

                                       = 24.500 m2

                Vak = luas akuifer x tebal aquifer

                        = 24.500 m x 50 m

                        = 1.225.000 m

                        = 12.250.000.000 m3

                Vat  = Sy x Vak

                        = 38% x 12.250.000.000 m3

                        = 4.655.000.000 m

 

Jadi volume total air tanah pada daerah pengamatan adalah 2.130.000.000 m3 + 4.655.000.000 m3 = 6.785.000.000 m3

           

            b. Menghitung Hasil Aman

Dalam menghitung hasil aman digunakan rumus,

HA = L x F x Sy

           

            Dataran Fluviomarine

            HA = L x F x Sy

                   = 17.500 m x 2 m x 12%

                   = 4200 m

                   = 42.000.000 m3

 

            Gumuk Pasir dan Biting Gisik

            HA = L x F x Sy

                   = 24.500 m x 2 m x 38 %

                   = 18.620 m

                   = 186.200.000 m3

            Jadi, hasil aman di wilayah pengamatan adalah 42.000.000  +  186.200.000

            = 228.200.000 m3

 

Artinya, pada daerah Parangtristis dan Parangkusuma khususnya daerah pengamatan, pengambilan air di wilayah itu tidak boleh melebihi batas aman, yaitu 228.200.000 m3. Apabila melebihi batas aman yang ditentukan dapat menimbulkan berbagai dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar. Pengambilan air tanah yang berlebihan akan membuat ketersediaan air dalam tanah berkurang. Walaupun dapat masukan dari air hujan bila musim penghujan tiba, tapi tetap saja tidak bisa menggantikan air tanah yang telah hilang. Butuh waktu yang lama dan konservasi  yang baik untuk mengembalikan seperti semula.  Imbuh air tanah tidak akan bisa mengimbangi kehilangan air tanahnya. Maka akan terjadi kekosongan ruang antar butir dalam akuifer. Dalam jangka waktu yang lama, akan terjadi pergeseran ke arah dalam dari butir-butir material akibat gaya berat dan gaya gravitatif. Sebelumnya ruang-ruang antar butir diisi oleh air, tetapi karena kondisinya yang tidak terkendali maka ruang tersebut menjadi tidak pernah terisi air kembali. Dampaknya selain terjadi amblesan tanah, pendalaman muka air tanah, juga dapat terjadi kelangkaan air tanah secara permanen. Jika air laut pada wilayah ini telah mengalir ke dalam sumur-sumur di daratan, maka penyediaan air tidak berguna, karena akuifer telah dikotori oleh air asin. Kehidupan masyarakat diwilayah ini juga akan menurun. Dengan keterbatasan air tanah membuat masyarakat kesulitan mencari air yang benar-benar tidak terkontaminasi oleh air laut. Sektor pertanian masyarakat juga bisa terganggu, dengan berkurangnya persediaan air tawar di sekitar pantai berdampak pada proses irigasi yang tidak maksimal.

 

VI.       KESIMPULAN

Sumber utama imbuhan air tanah adalah berasal dari air hujan. Air hujan yang jatuh di daerah penelitian tidak seluruhnya meresap ke dalam tanah sebagai imbuh air tanah. Sebagian curah hujan akan hilang ke atmosfir sebagai evapotranspirasi dan sebagaian lagi menjadi runoff dan langsung mengalir ke laut.  

Salah satu langkah konservasi air tanah adalah upaya mencegah kelangkaan air, yaitu dengan membatasi pengambilan air tanah di suatu wilayah. Untuk menentukan batasan pengambilan air tanah dilakukan perhitungan terhadap hasil aman. Hasil aman akan menentukan jumlah air yang boleh diambil tanpa menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Hasil aman ditentukan luas aquifer, spesifik yield, dan fluktuasi air tanah. Pembatasan pengambilan air dengan hasil aman bermanfaat untuk menghindari bencana hidrologis seperti kekurangan air tanah dan intrusi air laut. Upaya konservasi tanah salah satunya dapat dilakukan dengan metode pendekatan yang lebih bijak. Nilai hasil aman dapat diterapkan dalam penyusunan kebijakan pemerintah, berupa pembatasan pengambilan air tanah maksimal oleh setiap pengguna air tanah.

Hingga saat ini, air tanah masih merupakan sumber air utama penduduk untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, seperti untuk minum, memasak, mencuci, mandi, ternak dan lain-lain. Bahkan tidak sedikit sebagai pemasok kebutuhan air untuk kegiatan industri dan perhotelan. Sebagai akibat kebutuhan air tanah yang terus mengalami peningkatan, sementara di sisi lain suplai air kedalam tanah tetap atau bahkan berkurang, maka akan menimbulkan banyak masalah yang terkait dengan sumber air tanah. Misalnya penurunan muka air tanah atau bahkan intrusi air laut. Untuk itu, pada saat ini beberapa pemerintah daerah telah menyusun beberapa alternatif sebagai upaya mengkonservasi air tanah tersebut. Walaupun dalam pemilihan alternatif konservasi air tanah, seringkali tidak dilakukan melalui kajian yang mendalam sehingga mengabaikan prioritas konservasinya. Salah satu langkah konversi air tanah adalah upaya untuk mencegah kelangkaan air, yaitu dengan membatasi pengambilan air tanah pada suatu wilayah dengan mengetahui hasil aman. Dengan adanya hasil aman kita tahu seberapa besarkah air harus yang diambil untuk keperluan sehari-hari, namun juga tidak memberi dampak yang merrugikan bagi yang memanfaatkan.

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Asdak, Clay. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta: UGM Press.

Purnama, Setyawan. 2010. Hidrologi  Air  Tanah.  Yogyakarta:   Kanisius.

Seyhan, Ersin. 1990. Dasar-Dasar Hidrologi (diterjemahkan oleh Sentot Subagyo). Yogyakarta: UGM Press.

Soemarto.  1987.   Hidrologi  Teknik.   Surabaya:  Usaha  Offsite  Printing.

Post a Comment for "Laporan Praktikum Hidrologi"