Konsep Geografi
Dengan tujuan dan kepentingan
pengajaran geografi di sekolah, SEMLOK ahli geografi yang diselenggarakan di Semarang pada tahun 1989 dan 1990, mengusulkan
konsep-konsep yang perlu diajarkan pada para siswa, dari tingkat Sekolah Dasar
sampai Sekolah Lanjutan Atas sebagai berikut:
1)
Konsep Lokasi
Konsep lokasi atau
letak merupakan konsep utama yang sejak awal perkembangan geografi telah
menjadi ciri khusus ilmu geografi. Lokasi dipelajari arti dan pemakaiannya
sejak di tingkat Sekolah Dasar sampai dengan tingkat Perguruan Tinggi, sehingga
muncul teori-teori lokasi. Pembicaraan unsur letak sangat penting dalam
geografi, terutama berkaitan dengan telaah regional atau kajian wilayah. Secra
garis besar letak dapat dibedakan menjadi:
a)
Letak Fisiografis, meliputi:
(1)
Letak astronomi
(2)
Letak klimatologis
(3)
Letak maritime
(4)
Letak continental
(5)
Letak geologis
b)
Letak
Sosiogeografis, meliputi:
(1)
Letak sosial
(2)
Letak ekonomis
(3)
Letak politis
(4)
Letak kultural
2)
Konsep Jarak
Jarak mempunyai
arti penting bagi kehidupan sosial, ekonomi juga kepentingan pertahanan. Jarak
dapat merupakan faktor pembatas yang bersifat alami, walaupun jarak dapat juga
bersifat relatif, sejalan dengan kemajuan kehidupan dan teknologi. Jarak
meliputi dua hal yaitu jarak absolut dan jarak relatif. Jarak absolut adalah
jarak dua tempat yang diukur berdasarkan garis lurus di udara, yang mudah
diukur pada peta dengan memperhatikan skala peta. Jarak dapat pula dinyatakan
pada jarak tempuh, baik yang berkaitan dengan waktu perjalanan yang diperlukan
maupun satuan biaya angkutan, inilah yang disebut jarak relatif.
3)
Konsep
Keterjangkauan (accessibility)
Keterjangkauan
terkait dengan kondisi medan atau ada tidaknya sarana angkutan atau komunikasi
yang dapat dipakai. Berdasarkan atas faktor penentu apakah suatu tempat mudah
dijangkau atau tidak, aksesibilitas digolongkan menjadi dua, yakni
aksesibilitas fisik dan aksesibiltas nonfisik.
4)
Konsep pola.
Pola berkaitan
dengan susunan bentuk atau persebaran fenomena di permukaan bumi, baik fenomena
alam maupun fenomena sosial budaya. Geografi mempelajari pola dan bentuk
persebaran fenomena, memahami artinya serta berusaha untuk memanfaatkannya.
Apabila memungkinkan juga mengintervensi atau memodifikasi pola yang ada untuk
mendapatkan manfaat yang lebih besar, contoh: orang berladang dan menggembala
ternak di daerah yang hutannya kurang dan bersawah di daerah datar dan cukup
air.
5)
Konsep morfologi.
Morfologi
menggambarkan perwujudan daratan di muka bumi, yang merupakan hasil proses
pengangkatan atau penurunan wilayah melalui proses geologi, yang lazimnya
disertai dengan erosi dan sedimentasi. Oleh karena itu lalu terbentuk
pulau-pulau, dataran yang luas, pegunungan , lembah dan dataran aluvialnya.
Morfologi juga menyangkut dengan bentuk lahan yang terkait dengan erosi,
pengendapan, penggunaan lahan, ketebalan tanah, ketersediaan air, serta jenis
vegetasi yang dominan. Bentuk dataran atau plato dengan kemiringan tidak begitu
curam, merupakan wilayah yang mudah untuk digunakan sebagai daerah pemukiman
dan usaha perekonomiannya. Bila diperhatikan peta penyebaran penduduk di Asia,
ternyata daerah yang paling padat penduduknya adalah di lembah sungai besar
dengan tanah yang subur. Di daerah pegunungan tinggi atau lereng terjal dan
mempunyai keterjangkauan terbatas, umumnya merupakan daerah yang jarang
penduduknya atau bahkan tidak dihuni.
6)
Konsep aglomerasi.
Aglomerasi
merupakan kecenderungan persebaran yang bersifat mengelompok pada suatu wilayah
yang sempit, yang paling menguntungkan baik mengenai keseragaman gejala maupun
adanya faktor-faktor umum yang menguntungkan. Pada masyarakat perkotaan, mereka
cenderung tinggal mengelompok pada tingkat yang sejenis (homogen), sehingga
timbul pengelompokan pemukiman seperti daerah elite, daerah pemukiman pedagang,
daerah kumuh (slums) dan sebagainya. Sedang di daerah perdesaan yang
masyarakatnya masih bersifat agraris, mereka cenderung tinggal mengelompok di
daerah dengan tanah subur, datar, mudah memperoleh air. Mereka membentuk
perdesaan, makin subur tanah, makin luas daratan, semakin besar pula jumlah
penduduknya sehingga desa semakin besar, demikian pula sebaliknya. Pola
aglomerasi penduduk dibedakan menjadi 3 yaitu pola mengelompok, pola tersebar
secara acak (random), dan pola
tersebar teratur.
7)
Konsep nilai
kegunaan.
Nilai kegunaan
suatu fenomena atau berbagai sumber yang ada tersedia di permukaan bumi
bersifat relatif, tidak sama bagi semua orang. Daerah berpantai landai dengan
perairan yang jernih, belum tentu memiliki nilai kegunaan yang berarti bagi
penduduk setempat, bila kehidupan mereka berorientasi pada pemanfaatan
sumber-sumber di daratan secara bersahaja. Sebaliknya bagi orang kota yang
hidup berkecukupan, setiap hari selalu sibuk, tinggal di daerah yang sangat
padat, maka daerah pantai yang seperti itu memiliki nilai kegunaan yang tinggi
sebagai daerah rekreasi. Demikian pula daerah dataran banjir (alluvial plain), yang bagi sementara
orang dipandang sebagai daerah rawan dan dianggap kurang bermanfaat. Tetapi
bagi masyarakat yang sudah turun temurun bertempat tinggal di daerah seperti
itu, merupakan daerah yang menyenangkan untuk tempat tinggal, walaupun harus disertai
dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan dalam menghadapi kerawanan banjir
dan pemanfaatan daerah setempat.
8)
Konsep interaksi.
Proses interaksi
terjadi karena adanya perbedaan kewilayahan. Interaksi merupakan peristiwa
saling mempengaruhi daya-daya, objek atau tempat satu sama lain. Setiap wilayah
memiliki atau mengembangkan potensi sumber dan kebutuhan yang tidak selalu sama
dengan apa yang ada di wilayah lain. Oleh karena itu selalu terjadi interaksi
atau bahkan interdependensi antara satu tempat atau wilayah dengan tempat atau
wilayah lain. Misalnya: daerah perdesaan menghasilkan pangan dan produk-produk
lain yang dibutuhkan penduduk perkotaan. Sebaliknya perkotaan menghasilkan
berbagai barang industri, jasa dan informasi yang dibutuhkan penduduk
perdesaan.
9)
Konsep diferensiasi
areal (perbedaan keruangan).
Setiap tempat atau
wilayah mempunyai ciri dan sifat yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Hal
ini disebabkan karena setiap tempat merupakan hasil integrasi berbagai unsur
lingkungan yang berbeda kondisinya. Integrasi berbagai unsur tersebut
menyebabkan suatu wilayah mempunyai karakteristik tersendiri sebagai suatu
region yang berbeda dengan region lainnya. Unsur lingkungan dapat bersifat
dinamis, oleh karena itu integrasinya juga menghasilkan karakteristik yang
berubah-ubah dari waktu ke waktu. Misalnya daerah perdesaan dengan corak
kehidupan agrarisnya yang berbeda dengan keadaan di perkotaan. Bahkan kondisi
desa satu dengan desa lainnya, kota satu dengan kota yang lain juga dapat
menunjukkan adanya perbedaan. Karena unsur-unsur pembentuknya juga berbeda.
10)
Konsep Keterkaitan
keruangan.
Keterkaitan keruangan atau asosiasi
keruangan merupakan derajat keterkaitan persebaran suatu fenomena dengan
fenomena lain di satu tempat. Contoh: keterkaitan antara kemiringan lereng
dengan ketebalan tanah. Makin terjal lereng tentunya akan disertai dengan
semakin tipisnya tanah. Di lereng yang terjal erosi terjadi secara intensif.
Zona lereng tertentu dengan ketebalan tanah tertentu mewujudkan suatu region tersendiri
walaupun dalam skala mikro.
Post a Comment for "Konsep Geografi"